Suscríbete

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 28 Mei 2013

Inflasi Dalam Teori Ekonomi Konvensional dan Teori Ekonomi Islam


Inflasi Dalam Teori Ekonomi Konvensional Dan Teori Ekonomi Islam
Oleh:
Abdurrachman
Abdul Aziz
A.    Pendahuluan
Inflasi merupakan salah satu yang sangat lumrah terjadi di negara manapun. Tidak terkecuali negara-negara yang dikatakan ekonomi  maju walaupun tingkat inflasi yang rendah. Di negara-negara berkembang, tingkat inflasi yang terjadi sangatlah tinggi, sehingga bisa kita lihat fenomena rakyat dari negara yang berkembang, mengalami kelaparan, kemiskinan, dan ketidakadilan sosial.
Para ekonom muslim seperti al- Maqrizi juga memberikan sumbangan ilmunya mengenai inflasi.beliau meberikan teori dari sudut pandang islam. Di zaman Umar bin Khattab, inflasi pun pernah terjadi akan tetapi dengan kebijaksanaan Umar , beliau dapat menekan inflasi. Sehuingga bisa dikatakan ekonomi islam mempunyai solusi yang lebih mantap daaripada ekonomi kapitalis atau neo liberalisme, yang mana tidak dapat menjawab permaslahan inflasi.
Untuk itu di dalam makalah ini kami akan membahas dau pokok bahasan, yaitu inflasi dalam teori konvensional, dan inflasi dalam teori ekonomi islam.
Inflasi ini mempunyai penyebab dan dampak yan
B.     Inflasi dalam teori konvensional
1.      Pengertian inflasi
Inflasi adalah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus.[1] Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan dengan persentase yang sama. Mungkin dapat terjadi kenaikan harga tersebut tidaklah bersamaan. Yang penting terdapat kenaikan harga umum  barang secara terus menerus selama satu periode tertentu. Kenaikan yang terjadi hanya sekali saja (meskipun dengan persentase yang cukup besar) bukanlah merupakan inflasi. [2]   
2.      Penyebab terjadinya inflasi[3]
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.
a.       Inflasi tarikan permintaan (demand pull inflation)
Inflasi tarikan permintaan terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi  tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
b.      Inflasi desakan biaya ( cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal, yaitu : kenaikan harga, misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji, misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.
3.      Dampak Inflasi[4]
Inflasi merupakan suatu gejala buruk yang dapat mengganggu kestabilan ekonomi . Ada beberapa masalah yang akan muncul, apabila terjadinya inflasi:
a.       Menurunya tingkat kesejahteraan rakyat
Tingkat kesejahteraan masyarakat, sederhananya diukur dengan tingkat daya beli pendapatan yang diperoleh. Inflasi menyebabkan daya beli pendapatan makin rendah, khususnya bagi masyarakat yang berpenghasilan kecil dan tetap.
b.      Makin Buruknya Distribusi Pendapatan
Dampak buruk inflasi terhadap tengkat kesejahteraan dapat dihindari jika pertumbuhan tingkat pendapatan lebih tinggi. Tetapi pada kenyataannya, ketika inflasi mengalami pertumbuhan, banyak masyarkat yang tidak dapat menaikan tingkat pendapatanya. Sehingga kekuatan ekonomi mreka akan menurun
c.       Terganggunya stabilitas ekonomi
Inflasi mengganggu stabilitas ekonomi dengan merusak perkiraan masa depan para pelaku ekonomi. Bagi konsumen yang berpendapatan besar, mereka akan membeli barang dan jasa dalam jumlah yang besar, karena mereka berasumsi bahwa harga barang dan jasa akan naik lagi. Sedangkan konsumen berpenghasilan kecil, semakin hari akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya karena harga semakin naik.
 Bagi produsen  inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).[5]
4.      Cara mencegah inflasi
Menurut Nopirin[6], ada beberapa instrumen yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya inflasi, yaitu;
a.       Kebijakan moneter
Kebijakan moneter pemetrintah yang dapat dilakukan untuk mengurangi inflasi ialah;
1)      Pengaturan jumlah uang yang beredar. Misalnya dengan menggunakan uang giral.
2)      Politiik pasar terbuka ( jual beli surat berharga). Dengan cara menjual surat berharga bank sentral dpat menekan perkembangan jumlah uang yang beredar sehingga laju inflasi dapat lebih rendah.
3)      Bank sentral menggunakan tingkat diskonto ( diskon rate). Discount rate adalah tingkat diskonto untuk pinjaman yang diberikan oleh bank sentral kepada bank umum. Apabila tingkat diskonto dinaikan maka gairah bank umum untuk meminjam makin kecil, sehinggga cadangan bank sentral akan menurun. Dan itu membuat uang yang beredar turun. Sehingga inflasi dapat ditekan.
b.      Kebijakan fiskal
Kebijakan fiskal menyangkut pengaturan tentang pengeluaran pemerintah serta perpajakan yang secara langsung dapat mempengaruhi permintaan total dan dengan demikian akan mempengaruhi harga. Inflasi dapat dicegah melalui penurunan permintaan total. Kebijakan fiskal yang berupa pengurangan pengeluaran pemerinttah serta kenaikan pajak akan dapat mengurangi permintaan total , sehingga inflasi dapat ditekan.
c.       Kebijaksanaan yang berkaitan dengan output
Kenaikan output dapat memperkecil laju inflasi. Kenaikan jumlah output dapat dicapai dengan, kebijaksanaan penurunan bea masuk sehingga impor barang akan meningkat. Dan itu membuat barang di dalam negeri bertambah, sehingga menurunkan harga.
C.     Inflasi dalam teori Islam
Menurut para ekonom Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena empat hal sebagai berikut[7]:
1.      Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan (nilai simpan), fungsi pembayaran di muka, dan fungsi unit penghitungan. Akibat beban inflasi tersebut, orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan. Inflasi juga mengakibatkan terjadinya inflasi kembali atau self feeding inflation.
  1. Melemahkan semangat masyarakat untuk menabung (turunnya marginal propensity to save).
  2. Meningkatkan kecenderungan berbelanja, terutama untuk barang-barang non primer dan mewah (naiknya marginal propensity to consume).
  3. Mengarahkan investasi pada hal-hal tidak produktif seperti penumpukan kekayaan berupa tanah, bangunan, logam mulia, dan mata uang asing serta mengorbankan investasi produktif seperti pertanian, industri, perdagangan, dan transportasi.
Menurut Ekonomi Islam Taqiudin Ahmad bin Al-Maqrizi ( 1364-1441 M), merupakan salah satu murid Ibnu khaldun. Beliau menggolongkan inflasi dalam dua golongan yaitu:
1.      Natural Inflation[8]
Inflasi jenis ini diakibatkan oleh sebab-sebab alamiah yang tidak mampu dikendalikan orang. Menurut Ibn Al Maqrizi, inflasi ini diakibatkan oleh turunnya penawaran agregatif (AS) atau naiknya permintaan agregatif (AD).
Untuk menganalisisnya, dapat digunakan perangkat analisis konvensional, yaitu persamaan identitas berikut:
                        MV = PT = Y
                        Dimana
                        M         : jumlah uang beredar
                        V         : kecepatan peredaran uang
                        P          : tingkat harga
                        T          : jumlah barang dan jasa
                        Y         : tingkat pendapatan nasioanl (GDP)
                        Natural inflation dapat diartikan sebagai berikut:
a.      Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian (T). Misalnya  sedangkan M dan V tetap, maka konsekuensinya .
b.      Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya, nilai ekspor lebih besar daripada nilai impor, sehingga secara netto terjadi impor uang yang mengakibatkan  sehingga jika V dan T tetap maka .
Lebih jauh dapat dianalisis dengan persamaan berikut:
            AD = AS
            Dan
            AS = Y
            AD = C + I + G + (X – M)
Dimana:
            Y         : pendapatan nasional
            C         : konsumsi
            I           : investasi
            G         : pengeluaran pemerintah
            (X-M)  : Net export
maka:
            Y = C + I + G + (X – M)
      Berdasarkan penyebabnya, natural inflation dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a.       Akibat uang yang masuk dari luar negeri terlalu banyak, dengan ekspor meningkat  sedangkan impor menurun. Nilai net export yang nilainya sangat besar maka mengakibatkan naiknya permintaan agregatif.  
            Hal ini pernah terjadi semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. Pada masa itu, kafilah dagang yang menjual barang di luar negeri membeli barang dari luar dengan nilai lebih sedikit daripada nilai barang yang mereka jual (positive net export). Kondisi ini mendatangkan uang lebih yang dibawa pulang ke Madinah sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat naik, mengakibatkan naiknya tingkat harga secara keseluruhan.
            Untuk mengatasi masalah tersebut, Khalifah Umar melarang penduduk Madinah membeli barang atau komoditi selama 2 hari berturut-turut. Akibatnya, permintaan agregatif turun. Setelah pelarangan tersebut berakhir, harga kembali normal.
b.      Akibat turunnya tingkat produksi  karena paceklik, perang, embargo dan boikot. Hal ini juga pernah terjadi semasa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ra. Ketika itu terjadi kelangkaan gandum. Untuk mengatasinya, Khalifah Umar ra mengimpor gandum dari Fustat, Mesir sehingga penawaran agregatif (AS) barang di pasar kembali naik  yang mengakibatkan turunnya tingkat harga-harga.
2.      Human Error Inflation[9]
Di luar penyebab yang tergolong natural inflation, inflasi yang terjadi tergolong human error inflation atau false inflation. Dalam hal ini yang diakibatkan kesalahan manusia (sesuai dengan QS 30:41).
Human error inflation disebabkan tiga hal berikut:
a.       Korupsi dan administrasi yang buruk (corruption and bad administration)
Sesuai dengan persamaan MV=PT, korupsi akan mengganggu tingkat harga  karena para produsen akan menaikkan harga jual produknya untuk menutupi biaya ”siluman” yang telah dikeluarkan. Biaya siluman tersebut mereka masukkan ke dalam COGS (cost of good sold). COGS mendorong ATC dan MC naik ke ATC2 dan MC2 sehingga harga jual pada keadaan normal profit naik dari P menjadi P2. Artinya, COGS tidak merefleksikan nilai sumber daya yang sebenarnya yang digunakan dalam proses produksi. Harga terdistorsi oleh komponen yang seharusnya tidak ada. Hal ini menyebabkan terjadinya ekonomi biaya tinggi (high cost economy) dan pada akhirnya terjadi inefisiensi alokasi sumber daya yang merugikan masyarakat.
Selain menyebabkan inefisiensi dan ekonomi biaya tinggi, korupsi dan kelemahan administrasi sangat membahayakan perekonomian yakni terjerat pada spiralling inflation atau hyper inflation.
b.      Pajak yang berlebihan (excessive tax)
Efek yang ditimbulkan oleh pajak yang berlebihan pada perekonomian hampir sama dengan efek yang ditimbulkan oleh korupsi dan administrasi yang buruk yaitu kontraksi pada kurva penawaran agregatif. Namun, jika dilihat lebih jauh, excessive tax mengakibatkan apa yang dinamakan para efficiency loss atau dead weight loss.
c.       Pencetakan uang dengan maksud menarik keuntungan secara berlebih (excessive seignorage).
Arti tradisional seignorage adalah keuntungan yang didapat oleh percetakan dari pencetakan koin. Biasanya percetakan tersebut dimiliki oleh pihak penguasa atau kerajaan. Tindakan seignorage ini juga merupakan salah satu penyebab inflasi. Milton Friedman, seorang ekonom monetaris terkemuka mengatakan,”Inflation is always and everywhere a monetary phenomenon.” Para otoritas moneter di negara-negara Barat umumnya meyakini bahwa pencetakan uang akan menghasilkan keuntungan bagi pemerintah (inflation tax).
Di pihak lain, ekonom Muslim Ibn Al Maqrizi berpendapat bahwa pencetakan uang yang berlebihan jelas akan mengakibatkan naiknya tingkat harga   secara keseluruhan (inflasi). Menurutnya, kenaikan harga-harga komoditas adalah kenaikan dalam bentuk jumlah uang (fulus) atau nominal, sedangkan jika diukur dengan emas (dinar emas), harga-harga komoditas tersebut jarang sekali mengalami kenaikan. Untuk itu Ibn Al Maqrizi[10] menasehati bahwa uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk transaksi (jual-beli) dan dalam pecahan yang mempunyai nilai nominal kecil (supaya tidak ditimbun).
D.    Kesimpulan
Dalam teori konvensional inflasi ialah gejala kenaikan harga barang-barang yang bersifat umum dan terus menerus. Inflasi disebabkan oleh dua hal, yaitu, inflasi tarikan penawaran (demand full inflation), dan inflasi desakan biaya ( Cost push inflation). Dampak dari inflasi ialah menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat. Makin buruknya distribusi pendapatan, dan terganggunya stabilitas ekonomi. Cara mencegahnya; dengan menggunakan kebijakn moneter, fiskal, dan output yang dilakukan oleh pemerintah.
Di dalam pandangan ekonom muslim, inflasi dapat menimbulkan gangguan, melemahkan semngat masyarkat untuk menabung, meningkatkan kecendrungan berbelanja, dan mengarahkan masyarkat untuk berinvestasi ke sektor non produktif. Menurut Al mAqrizi, inflasi disebabkan oleh dua hal, yaitu natural inflation yaitu kejadian alamiah yang tidak mampu dikendalikan orang dan Human error inflation yaitu kesalahan manusia yang menyebabkan terjadinya inflasi
Daftar Bacaan
Karim , Adiwarman A., Ekonomi Suatu Kajian Kontemporer, Jakarta, Gema Insani Press, 2001
Karim, Adiwarman A., Ekonomi Makro Islami, Jakarta,  Raja Grafindo Persada, 2007
Nopirin, Ph.D., Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro, Yogyakarta, BPFE, 2008
Rahardja, Prahtama dan Manurung, Mandala, Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi dan Makroekonomi), Jakarta, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004
id.wikipedia.org/wiki/Inflasi
www.bi.go.id


[1] Prahtama Rahardja dan Mandala Manurung, Pengantar Ilmu Ekonomi (Mikroekonomi dan Makroekonomi), ( Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004)
[2] Nopirin, Ph.D., Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro,( Yogyakarta: BPFE, 2008)
[3] id.wikipedia.org/wiki/Inflasi
[4] Prahtama Rahardja dan Mandala Manurung, Op.cit.
[5] id.wikipedia.org/wiki/Inflasi
[6] Nopirin, Pengantar Ilmu Ekonomi Makro dan Mikro, Op.cit
[7] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Makro Islami, ( Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007)
[8] Ibid.,
[9] Www.bi.go.id Hari Sabtu, 22 Oktober 2011, jam 09.10
[10] Adiwarman A. Karim, Ekonomi Suatu Kajian Kontemporer, ( Jakrta; Gema Insani Press, 2001) 

Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam


Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam
 Fase pertama, pemikiran-pemikiran ekonomi Islam baru pada tahap meletakkan dasar-dasar ekonomi Islam, dimulai sejak awal Islam hingga pertengahan abad ke-5 H/ 7-11 Masehi. Pada tahap ini pemikiran-pemikiran ekonomi Islam pada umumnya bukanlah dibahas oleh para ahli ekonomi, melainkan dirintis fuqaha, sufi, teolog, dan filsuf Muslim. Pemikiran ekonomi Islam pada tahap ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab turats (peninggalan ulama). Dari turats itulah para intelektual Muslim maupun non-Muslim melakukan kajian, penelitian, analisis, dan kodifikasi pemikiran-pemikiran ekonomi Islam yang pernah ada atau dikaji pada masa itu. Pemikiran-pemikiran ekonomi yang terdapat dalam kitab tafsir, fiqih, tasawuf dan lainnya, adalah produk ijtihad sekaligus interpretasi mereka terhadap sumber Islam saat dihadapkan pada berbagai kegiatan-kegiatan ekonomi dan persoalan-persoalan ekonomi yang dihadapi masa itu.
Fase kedua adalah  berlangsung dari abad 11- 15. Pada masa ini para fuqaha, sufi, filsuf, dan teolog, mulai menyusun bagaimana seharusnya umat Islam melaksanakan berbagai aktivitas ekonomi. Tidak hanya merujuk pada Al-Quran dan tradisi kenabian, tapi juga mulai mengemukakan pendapat-pendapatny a sendiri.
Fase ketiga adalah stagnasi, ditandai dengan kemunduran Dunia Islam dalam khazanah intelektual, sejak 1446 hingga munculnya pemikir Muhammad Iqbal pada 1932.
Fase keempat adalah modern, ditandai dengan kebangkitan Dunia Islam dari stagnasi pemikiran selama lima abad sejak pertenghaan abad ke-15 hingga pertengahan abad ke-20. Pada masa modern ini muncul pakar-pakar ekonomi Islam profesional.
Jika pembahasan ekonomi sebelumnya dilakukan para fuqaha, teolog, filsuf, dan sufi, maka pada masa modern ini dikembangkan kalangan sarjana ekonomi atau cendekiawan Muslim,yang tidak sedikit mendapat pendidikan Barat. Sebuah jejak perjalanan pemikiran ekonomi Islam. Sebuah kekayaan yang pantas kita banggakan dan hadirkan dengan kontekstualisasi dan pengembangan nalar sehingga relevan dengan zaman sekarang. Memang harus diakui bahwa pasca-tumbangnya Komunisme, Sosialisme, Liberalisme dan sistem ekonomi Kapitalisme yang menjadikan krisis global di negara-negara Barat dan yang berada di bawah naungannya, termasuk Indonesia, para ekonom Barat mencari “formula” yang kemampuan, kekuatan, dan kehebatannya melampaui sistem dan pemikiran yang sebelumnya. Mereka melihat pada Islam, khususnya pada khazanah pemikiran ekonomi yang dikemukakan para ulama dan cendekiawan Muslim. Tidak sedikit karya khazanah ekonomi Islam itu diadaptasi dan dikembangkan di negara-negara Barat sekarang ini. Bedanya dengan di negeri-negeri Islam adalah, ekonom Barat mengambil sistem dan konsepnya tanpa mengambil sisi spiritualitasnya. Mungkin, bisa diibaratkan bentuk tanpa isi. Namun, meski begitu geliatnya dalam mewujudkan sistem yang berdasarkan syari`ah sangat tampak dari beberapa perusahaan yang ada di Eropa, khususnya di Inggris sudah muncul perguruan tinggi yang mengajarkan Islamic finance dan di Jepang untuk kawasan Asia. Mengapa mesti ekonomi Islam yang menjadi solusi dalam membangun sistem perekonomian yang utuh dan paripurna?
Ciri-ciri Ekonomi Islam :
Pertama adalah ekonomi Islam berlandaskan pada tauhid (Ilahiyah).
Keduaadalahmengutamakankeadilan.
Ketiga adalah kemanusiaan, terutama dalam berbagi kepada yang kurang mampu secara finansial dan belum berdaya.
Keempat adalah menjunjung kebebasan, melepaskan manusia dari beban dan rantai yang membelenggunya karena Islam menjunjung kebebasan, berarti kreasi, inovasi dan improvisasi untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat adalah keharusan.
Kelima adalah akhlak. Islam menghubungkan masalah mu`amalah dengan etika, seperti kejujuran, amanah, adil, ihsan, kebajikan, silaturrahim, dan kasih sayang. Semua itu harus tercermin dalam semua kegiatan ekonomi, mulai dari produksi, sirkulasi dan perdagangan hingga konsumsi.
Pemikiran Ekonomi Abu Yusuf
Abu Yusuf lahir pada tahun 113 H, pernah tinggal di Kufah dan di Bagdad, meninggal pada tahun 182 H. Menurut penuturannya beliau menjadi murid Abu Hanifah selama 17 tahun dan sejumlah ulama terkemuka pada masa itu. Beliau juga tercatat sebagai murid dari Ibn Abi Laila, imam Malik dan sejumlah ulama lainnya. Panggilan populernya adalah Qadli Qudhat (hakim agung) yaitu jabatan yang disandangnya pada masa kekuasaan khalifah Harun al-Rasyid. Perhatiannya banyak terfoks pada keuangan umum dan peran negara, pekerjaan umum, dan perkembangan pertanian. Ia pun dikenal sebagai penulis pertama buku perpajakan yang dinamainya Kitab al-Kharaj.   
           Abu Yusuf menjadi salah satu dari dua referensi utama fiqh dalam mazhab Hanafi. Pengetahuannya tentang hadis juga tidak dapat diremehkan. Ini terlihat dalam kitab al-Asar karya putranya Yusuf. Kitab ini sarat dengan wacana fiqh Abu Hanifah dan Abu Yusuf.
 Keunggulan karya Abu Yusuf dalam bidang fiqh karena ditulis dengan metode: 
 Pertama, menggabungkan metode fuqaha' (aliran ra'y) di Kufah dengan metode fuqaha' (aliran al-hadis) di Madinah.
Kedua, rumusan hukumnya sejalan dengan fenomena aktual di tengah masyarakat sehingga sangat aplikatif dan realistis. Pengalamannya dalam menyelesaikan kasus-kasus rill, membuatnya banyak menghindar dari rumusan fiqh yang asumtif.
Ketiga, bebas dalam berpendapat. Kemampuan Abu Yusuf menggabungkan metode fuqaha' aliran ra'yi dan aliran hadis membentuknya menjadi faqih independen, tidak berpihak kepada pendapat tertentu secara subyektif. Beliau melakukan ijtihad secara mandiri dan tidak terpengaruh oleh pendapat guru-gurunya.
Keempat, komitmen pada sumber-sumber tekstual dan rasional. Metode ini menjadi tradsisi para ulama ahl al-ra'y yang menggunakan nalar qiyas dan nalar istihsan serta mempertimbangkan al-'urf.
          Dalam bidang ekonomi , terutama dalam kitab al-kharaj, Abu Yusuf pun menggunakan motode-metode tersebut. Kitab al-Kharaj, merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh khalifah Harun al-Rasyid dan pertanyaan-pertanyaan yang dibuat sendiri oleh Abu Yusuf. Jawaban atas semua pertanyaan tersebut diperkuat oleh dalil-dalil aqli dan naqli Abu Yusuf menggunakan pendekatan rasional dalam menyimpulkan 'ilal al-hadis. Abu Yusuf tidak mengabaikan praktek faktual para sahabat (a'mal al-sahabah) sejauh itu relevan dengan situasi yang ada mengingat kemaslahatan umum selalu menjadi pertimbangan utama.
              Istilah al-kharaj dalam prespektif Abu Yusuf mengandung dua makna:
 Pertama,  makna yang berdimensi umum yaitu al-amwal al-'ammah (keuangan umum), atau sumber pendapatan Negara  seperti ganimah, fai', al-kharaj, al-jizyah, dan harta-harta yang berkedudukan sebagai pengganti seperti  al-kharaj seperti 'usyur al-tijarah, dan  sadaqah.
          Kedua, makna al-kharaj yang berdimensi khusus yaitu sewa tanah atau kompensasi atas pemanfaatan tanah. Dengan demikan, istilah  al-amwal sinonim dengan istilah al-kharaj yaitu keuangan umum atau sumber pendapatan negara. Pemaknaan al-kharaj secara sempit dan khusus, kata Dhiya' al-Din al-Ris muncul dan dipelopori oleh fuqaha' pasca Abu Yusuf, tetapi pemunculan tersebut tidak mempengaruhi makna dasar al-kharaj 
           
Abu Yusuf adalah orang pertama kali memperkenalkan konsep perpajakan di dalam karyanya al-kharaj. Kitab ini, ditulis atas permintaan Khalifah Harun al-Rasyid, ketika dia ingin mengatur sistem Bait al-mal, sumber pendapatan Negara dan cara pendistribusiannya, dan untuk menghindari manifulasi, kedzaliman, serta untuk mewujudkan kepentingan penguasa.
         
Al-Kharaj dan visi strategisnya disamping memuat konsep terhadap kebijakan sumber pendapatan Negara, juga mempertegas bahwa ilmu ekonomi adalah bagian tak terpisahkan dari seni dan menejemen pemerintahan dalam rangka pelaksanaan amanat yang dibebankan rakyat kepada pemerintah untuk mensejahterakan mereka. Dengan kata lain, tema sentral pemikiran ekonominya menekankan pada tanggungjawab penguasa untuk mensejahterakan rakyatnya. Ia adalah peletak dasar prinsip-prinsip perpajakan yang dikemudian hari “diambil” oleh para ahli ekonomi sebagai canons of taxation. Sedangkan pemikiran kontroversialnya ada pada sikapnya yang menentang pengendalian dan penetapan harga (tas’ir).
Dapat dipastikan, bahwa konsep "ekonomi makro" tidak ditemukan dalam al-kharaj karya Abu Yusuf, dan juga belum dikenal di dunia Barat sampai beberapa abad pasca Abu Yusuf. Kegiatan prekonomian, kata Abu Yusuf merupakan fenomena yang selalu berubah-ubah (zawahir tsanawiyah) dan  bersumber dari aktivitas kolektif masyarakat muslim.
Faktor-faktor yang mempercepat kegiatan perekonomian tidak sama dari segi tingkat kepentingan dan kekuatannya:
 Pertama, mewujudkan undang-undang tertinggi yang dengannya dapat memerintah dengan pertolongan Tuhan.  
Kedua, usaha untuk memenuhi kebutuhan material dan keinginan-keinginan lainnya.
Ketiga, inisiatif atau keinginan penguasa.
Oleh karena itu, kata Abu Yusuf, fenomena prekonomian tidak selalu berhubungan secara langsung dengan sebab akibat (undang-undang tentang prekonomian). Hubungan biasanya bersifat tidak langsung karena melalui kehendak tertinggi, atau kehendak wakil Tuhan di permukaan bumi dalam bentuk masyarakat muslim, penguasa atau lainnya. Para khalifah Tuhan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan berkaitan dengan sejumlah fenomena-fenomena preekonomian seperti perbaikan tanah dan lain-lain.
Sumber ekonomi, menurut Abu Yusuf berada pada dua tingkatan:
Pertama meliputi unsur-unsur alam (antara lain air dan tanah). Unsur-unsur ini paling kuat dan melakukan produksi secara mandiri.
Kedua tenaga kerja. Tingkatan yang kedua ini berperan kurang maksimal dan tidak rutin seperti perbaikan dan pemanfaatan tanah, membuat sistem irigasi dan lain-lain.
         
Sebetulnya produksi dalam pengertian membuat barang baku (setengah jadi) menjadi produk final melalui kerja, tidak banyak menarik perhatian Abu Yusuf termasuk pada proses permulaan seperti  ihya' al-mawaat.
Al-musytarakat al-diniyah (komunitas yang menganut agama samawi dan agama ardhi, dan musytarakat al-mudun atau komunitas masyarakat perkotaan dan pedesaan atau komunitas masyarakat dagang, menurut Abu Yusuf menjadi elemen dalam prekonomian. Komunitas jenis pertama terbentuk dari unsur agama, dan komunitas jenis kedua membentuk pusat kekuasaan pemimpin. Kedua jenis  komunitas tersebut mempersatukan, atau minimalnya mempererat hubungan antara semua unsur atau elemen prekonomian tersebut.
Abu Yusuf tidak banyak menyentuh persoalan fakir miskin (fuqora') dan tidak memunculkan konsep kelas sosial. Diskripsi masyarakat yang dibuat Abu Yusuf, mencerminkan bahwa hubungan produksi dari satu sisi merupakan hubungan antara umat Islam dengan kaum zimmi dalam Dar al-Islam atau hubungan umat Islam dengan komunitas non muslim dalam Dar al-harb. Dalam hubungan model pertama pendapatan bersumber dari al-kharaj dan al-jizyah. Sedangkan hubungan model kedua, pendapatan bersumber dari al-ganimah ytang sebagiannya didistribusikan untuk Bait al-mal. Selain itu, pemerintah juga menarik bea cukai dari pedagang kafir harbi atas barang dagangan mereka yang masuk ke negara Islam. Adapun umat Islam diwajibkan untuk mengeluarkan zakat sebagai bentuk solidaritas sosial mereka sesama muslim yang membutuhkan.
Konsep perdagangan luar negeri, diperkenalkan oleh Abu Yusuf secara inplisit dengan istilah tabadul. Walaupun sistem pasar nyaris dilupakannya. Abu Yusuf juga membuat model distribusi dan alokasi penerimaan ganimah bagi pasukan perang dan seluruh umat Islam.
Kekuasaan menurut Abu Yusuf terdiri dari tiga unsur yaitu: Pertama  umat Islam, Kedua pemimpin (imam), Ketiga lembaga-lembaga negara atau pemerintahan antara lain al-jaisy, al-dawawin. Mereka dibebani dengan misi ekonomi yang paling fundamental seperti menetapkan jizyah, membagi ganimah, menetapkan gaji dan tunjangan, memberikan tanah pinjaman, membuat sistem irigasi dan memperbaiki tanah.
Adapun konsep kepemilikan sangat luas dan fleksibel meliputi penanaman modal (istiglal) yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk mengambil sebagian atau semua keuntungan, kepemilikan secara aktual, kepemilikan individu dan kepemilikan khusus seperti barang bergerak, kepemilikan umum dan kepemilikan bersama yang diatur oleh pemerintah, kepemilikan terhadap budak. Jenis-jenis  kepemilikan ini memiliki karakteristik yang tidak permanen.
Terdapat catatan penting dan umum, khususnya susunan kategori, yaitu agama, ekonomi dan militer. Hal ini terlihat pada konsep hubungan produksi yang fundamental, hubungan pajak tanah dan pajak diri:
Unsur-unsur keagamaan dapat dilihat dari hubungan komunitas muslim dan komunitas zimmi. Unsur-unsur ekonomi terlihat bahwa pendapatan berpindah dari yang kedua (kaum zimmi) ke yang pertama (kaum muslim). Unsur-unsur militer terlihat bahwa hubungan-hubungan tersebut hasil dari perjanjian atau kesepakatan sebagai konsekuensi kemenangan dalam berperang.
Pemikiran Ekonomi Abu Ubaid
Abu Ubaid dilahirkan di Bahrah, di propinsi Khurasan (barat laut Afghanistan) pada tahun 154 Hijriah. Nama aslinya al-Qosim ibn Salam ibn Miskin ibn Zaid al-Azdhi. Ia belajar pertama kali di kota asalnya, lalu pada usia 20-an pergi ke Kufah, Basrah, dan Baghdad untuk belajar tata bahasa Arab, qirâ’ah, tafsir, hadis, dan fikih. Setelah kembali ke Khurasan, ia mengajar dua keluarga yang berpengaruh. Pada tahun 192 H, Thâbit ibn Nasr ibn Mâlik (gubernur yang ditunjuk Harun al Rasyid untuk propinsi Thughur) menunjuknya sebagai qâdi’ di Tarsus sampai 210 H. Kemudian ia tinggal di Baghdad selama 10 tahun, pada tahun 219 H, setelah berhaji ia tinggal di Mekkah sampai wafatnya (224 H).
Abu Ubaid mengarang sebuah kompendium mengenai keuangan publik yang dapat dibandingkan dengan kitab al kharaj-nya Abu Yusuf. Kitab al Amwal-nya sangat kaya secara historis dan juga berisi materi-materi hukum Islam yang luas. Karyanya banyak dikutip oleh penulis-penulis Islam, dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.
Kitab Al-Amwal dari Abu Ubayd merupakan suatu karya yang komprehensif tentang keuangan negara dalam Islam. Buku ini dimulai dengan sebuah bab singkat tentang,”hak  penguasa atas subjek (individu dalam masyarakat) dan hak subjek atas penguasa”, yang kemudian dilanjutkan dengan bab mengenai jenis-jenis harta yang dikelola penguasa untuk kepentingan subjek dan dasar-dasar pemikirannya yang dibahas dalam kitab Allah serta Sunnah. Bab-bab lainnya yang lebih tebal dari pembahasan bukunya Abu Yusuf membahas mengenai pengumpulan dan pembayaran (disbursement) dari tiga jenis penerimaan yang diidentifikasi dalam bab ke dua, yaitu: zakat (termasuk ushr), khums yaitu seperlima dari hasil rampasan perang dan harta karun atau harta peninggalan tanpa pemilik dan fa’i yang termasuk kharaj, jizyah dan penerimaan lainnya yang tidak termasuk kedalam kategori pertama dan kedua seperti, penemuan barang-barang yang hilang (rikaz) kekayaan yang ditinggalkan tanpa ahli waris, dan lain-lain.
Buku ini dengan kaya melaporkan sejarah ekonomi Islam selama dua abad pertama hijriyah, yang juga merupakan sebuah ringkasan tradisi Islam asli dari Nabi, para sahabat dan para pengikutnya mengenai permasalahan ekonomi. Abu Ubaid tidak hanya sekedar melaporkan pendapat-pendapat orang lain ini, tetapi juga selalu mengakhirinya dengan menjalinkan masalah tersebut secara sistematis, mengungkapkan suatu preferensi atas sebuah pendapat dari beberapa pandangan yang dilaporkan atau memberikan pendapatnya sendiri dengan dukungan beberapa basis syari’ah tertentu atau dengan alasan-alasan rasional. Misalnya, setelah melaporkan berbagai pendapat tentang besarnya zakat yang seharusnya diterima oleh seorang penerima zakat yang berhak, dia dengan keras menyatakan ketidaksetujuannya terhadap mereka yang meletakkan suatu batas tertinggi (ceiling) pada pemberian zakat tersebut. Hal yang terpenting baginya adalah keterpenuhan kebutuhan rakyat dan terselamatkannya masyarakat dari penghancuran yang dilakukan oleh orang-orang yang berkeinginan ‘tidak terbatas’, bahkan jika hal tersebut harus dilakukan dengan pengeluaran uang yang amat besar pada sebuah kasus tertentu.
Saat membahas tentang tarif atau persentase untuk pajak tanah dan poll-tax, ia menyinggung tentang pentingnya keseimbangan antara kekuatan finansial dari subyek non-Muslim, dalam finansial modern disebut sebagai “capacity to pay” dan juga memperhatikan kepentingan para penerima Muslim. Ia membela pendapat bahwa tarif pajak kontraktual tidak dapat dinaikkan tapi dapat diturunkan jika terjadi ketidakmampuan membayar serius. Abu Ubaid berupaya untuk menghentikan terjadinya diskriminasi atau penindasan dalam perpajakan serta terjadinya penghindaran terhadap pajak (tax evasion).

Diberdayakan oleh Blogger.

Text Widget

Sample Text

Jalan Jenderal Ahmad Yani, Surakarta 57162, Indonesia
Kampus 2 UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB-UMS)

Followers

Stats

Didukung Oleh

Didukung Oleh

Link Blog

BTemplates.com

Popular Posts