Prodi Ekonomi Syariah (Dilema Pendidikan): keinginan ATAU kebutuhan


Ekonomi syariah bukan menjadi dua kata asing lagi dikalangan masyarakat. Iklan mengenai bank-bank syariah maupun lembaga keuangan syariah non bank yang berbasis syariah pun turut mewarnai televisi, radio, baliho maupun media massa lainnya. Wujud aslinya pun nyata dimana-mana. Kantor-kantor bank maupun lembaga keuangan berbasis syariah tersebut menjamur di tiap sudut kota. Masyarakatpun menyambut dengan baik kehadiran lembaga keuangan berbasis syariah ini, karena di samping sistem yang diyakini kebenarannya, ekonomi syariah juga menjadi pembuktian bahwa ekonomi kapitalis-sosialis yang selama ini diagung-agungkan dunia barat, tidak memiliki daya banting yang menyehatkan perekonomian dunia.
Tidak dapat dipersalahkan pula, bahwa pengetahuan masyarakat mengenai ekonomi syariah di Indonesia masih sebatas pada lembaga keuangan bank maupun lembaga keuangan non bank yang berbasis syariah. Dapat dilihat dari sejarahnya, hegemoni ekonomi syariah, dimulai sejak berdirinya Bank Muamalat yang di prakarsai Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1992. Meskipun diskusi-diskusi, seminar-seminar sudah banyak mengupas seluk beluk ekonomi syariah, namun stigma ekonomi syariah hanya menyoal tentang lembaga keuangan syariah masih tak dapat terelakkan.
Ditilik dari segi keberadaannya, ekonomi syariah datang dari para ekonom ekonom muslim yang tidak hanya membahas mengenai lembaga keuangan yang sesuai dengan prinsip Islami. Namun juga menyentuh masalah lain yang lebih kompleks. Misalnya, Abu Ubaid Al Qasim dalam kitabnya Al Amwal yang membahas mengenai keuangan publik Islam atau Abu Yusuf yang menerangkan mengenai perpajakan dalam kitabnya Al Kharaj. Ibnu khaldun, makroekonom muslim yang banyak membicarakan perihal sumber daya manusia dalam sektor ekonomi negara dan masih banyak lagi ekonom muslim yang mengemukakan ekonomi syariah dari berbagai sisi.Namun, realita yang ada saat ini, lembaga keuangan syariah di Indonesia masih menjadi primadona di bidang bisnis perbankan.
Selain dunia perbankan maupun lembaga keuangan non bank lainnya yang rami-ramai menambahkan label “syariah” pada lembaga mereka, perguruan tinggi pun juga turut dalam hingar bingar perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Seperti banyaknya di buka sekolah maupun perguruan tinggi yang memiliki tagline: sekolah ekonomi Islam. Banyak pihak yang menyambut baik program studi baru yang belakangan mulai bermunculan di beberapa universitas di Indonesia tsb, karena akses pembelajaran ekonomi syariah tidak harus di tempuh ke luar negri. Namun, ada juga yang menganggap bahwa kemnculan program studi ekonomi syariah hanya sebatas pada pemenuhan kebutuhan pasar, yakni industri perbankan syariah.
Mahasiswa di setting menjadi “ekonom-ekonom muslim” siap pakai yang dipekerjakan di lembaga-lembaga keuangan tersebut yang kabarnya kekurangan sumber daya manusia yang berlabel syariah. Hal tersebut juga menjadi alternative baru bagi para calon mahasiswa untuk memilih program studi yang akan mereka pilih dibangku kuliah. Karena, pada kenyataannya, bekerja di lembaga keuangan yang berbasis syariah sangatlah menjanjikan dimasa mendatang.
Hal tersebut menimbulkan dilema tersendiri bagi dunia pendidikan. Bahwa berdirinya program studi ekonomi syariah di berbagai universitas seakan menjadi boomerang. Program studi ekonomi syariah dituding menjadi penyedia keinginan bagi industri bisnis perbankan syariah yang tengah berkembang saat ini dan bukan lagi sebagai salah satu penyokong kebutuhan akses informasi dari kebangkitan ekonomi syariah yang ditujukan untuk membentuk sistem perekonomian yang rahmatan lil ‘alamiin.
Hal tersebut seiring sejalan dengan fenomena yang ada. Kebutuhan dan keinginan menjadi bahasan yang alot dalam setiap diskusi ekonomi. Dimana kebutuhan merupakan hal yang paling pokok dalam berekonomi, sementara manusia sendiri sebagai makhluk sosial, memiliki keinginan pula dalam kehidupannya. Sehingga, pemenuhan kebutuhan merupakan diatas segala-galanya dari keinginan. Namun, manusia sebagai makhluk yang memiliki hawa nafsu tentu saja juga memiliki keinginan dalam kehidupan mereka. Termasuk dilema dunia pendidikan antara kebutuhan untuk menumbuhkembangkan ekonomi Islam yang sesuai dengan aturan Allah S.W.T. dengan keinginan untuk memenuhi sumber daya manusia dalam industri perbankan syariah negri ini.
Wallahu a’lam bissawaab.

“ditulis dari Pikiran Liar Diah Ratih Angraini”
IESP Pembangungan FEB UMS